5 Masalah Umum Pada Airbag Tidak Berfungsi Saat Kecelakaan
Sobat Kamoto - Kecelakaan di jalan bisa terjadi pada siapa
saja. Tak kenal mobil murah atau punya perangkat canggih sekalipun. Nah, kenapa
airbag terpasang tidak membuka ketika berbenturan keras dengan objek lain?
Sedikitnya ada lima penyebab umum. Mulai dari jenis kecelakaan, sensor,
komponen listrik, modul, hingga cacat produk.
1. Sifat Tabrakan
Yang pertama ialah jenis tabrakan. Ini jelas memainkan
faktor utama apakah airbag dapat mengembang atau tidak. Tergantung di mana
kendaraan Anda tertabrak, sehingga sensor airbag mungkin tidak terpicu. Dalam
kasus ini terjadi jika bantalan udara depan tidak menyala pada jenis tabrakan
terguling tertentu. Atau selama tubrukan samping dan belakang.
Menurut Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya
Nasional (NHTSA). Lokasi tumbukan adalah indikator utama untuk mengetahui
apakah airbag seharusnya mengembang. Bagian ini lebih penting ketimbang melihat
kecepatan kendaraan atau tingkat kerusakan yang dideritanya. Misal, penyebaran
airbag depan diharapkan berdampak sedang hingga parah pada bumper depan. Atau
juga sudut depan kendaraan Sobat.
2. Sensor Airbag Rusak
Jika dampak tabrakan seharusnya memicu airbag mengembang,
tetapi faktanya tak terjadi. Ada kemungkinan sensor gagal mendeteksi benturan
atau mengembangkan airbag secara optimal. Bisa jadi, pabrikan tidak merancang,
menguji atau memasang sensor secara tidak benar. Faktor lain, ada kegagalan
dalam perangkat lunak atau kalibrasi ambang batas penembakan airbag. Dalam
beberapa kasus. Sensor airbag tidak cukup untuk mendeteksi tabrakan. Sering
kali diakibatkan oleh pabrikan yang terlalu “berhati-hati” dengan mengedepankan
keuntungan di atas keselamatan manusia.
3. Komponen Kelistrikan Bermasalah
Airbag gagal mengembang juga dapat disebabkan oleh komponen
listrik rusak. Atau kabel yang dirancang untuk menyampaikan sinyal benturan ke
airbag bermasalah. Ketika komponen ini diproduksi secara cacat atau dipengaruhi
oleh clock springs yang salah di lingkar kemudi. Maka bantalan udara urung
mengembang. Dalam kasus ini biasanya terjadi pada tabrakan, hanya satu airbag
mengembang, tetapi sebagian lain tidak.
4. Kabel Terputus
Para peneliti turut menemukan bahwa kegagalan airbag dapat
terjadi. Ketika produsen memilih mengarahkan kabel melalui area yang membuatnya
rentan terputus saat terjadi kecelakaan. Jika benar kabel terpasang di area
rentan itu rusak atau terputus. Tentu dapat mencegah sinyal benturan untuk
mencapai modul airbag.
5. Cacat Modul Airbag
Faktor lain bisa berupa cacat pada modul airbag itu sendiri,
sehingga mencegah kantong udara menembak seketika. Ada kasus saat sinyal
benturan dengan benar mengidentifikasi tabrakan dan memerintahkan airbag untuk
mengembang. Tetapi modul tidak merespons. Dalam hal ini berkaitan dari hasil
salah desain atau cacat manufaktur, serta protokol kontrol kualitas sangat
buruk.
Untuk diketahui, airbag merupakan bagian
kompleks dari teknologi keselamatan. Tetapi produsen mobil (APM) memiliki
tanggung jawab hukum, memastikan kendaraan aman, seperti yang diharapkan
konsumen. Umumnya, Airbag harus mengembang dalam setiap tabrakan, saat
pengemudi atau penumpang tubrukan keras. Perangkat ini memang dirancang demi
mencegah sejumlah risiko cedera di kepala, leher maupun tulang belakang.
30
JUL